Wabup Bone Andi Akmal Hadiri Rakor HIV/AIDS Sulsel, Tekankan Pentingnya Kurangi Stigma dan Diskriminasi

News7 views

BONE — PENAAKTUAL.COM – Wakil Bupati Bone, Dr. H. Andi Akmal Pasluddin, S.P., M.M., menghadiri Rapat Koordinasi (Rakor) dalam rangka memperkuat upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS di Provinsi Sulawesi Selatan menuju Ending AIDS 2030, di Hotel Travellers Phinisi, Jalan Lamaddukelleng Buntu/Jalan H. Bau, Kota Makassar, Kamis (17/9/2026).

Rakor tersebut mempertemukan para wakil bupati/wakil wali kota, instansi vertikal, kepala dinas, badan dan biro terkait lingkup Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, pengelola program HIV/AIDS kabupaten/kota, Palang Merah Indonesia (PMI), serta lembaga swadaya masyarakat (LSM) pemerhati HIV/AIDS.

Kegiatan mengusung tema “Menuju Ending AIDS 2030”, sebagai bagian dari penguatan koordinasi dan sinergi lintas sektor dalam upaya pencegahan serta penanggulangan HIV/AIDS di Sulawesi Selatan.

Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi (KPAP) Sulawesi Selatan, Muharram Sahude, dalam sambutannya menekankan pentingnya komitmen bersama, penguatan koordinasi lintas sektor, serta langkah strategis dan inovasi berkelanjutan dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS di Sulawesi Selatan.

Ia menyampaikan, upaya menuju target Ending AIDS 2030 membutuhkan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan, baik pemerintah, instansi vertikal, tenaga kesehatan, dunia pendidikan, organisasi masyarakat, maupun lembaga pemerhati HIV/AIDS.

Baca Juga:  Pengurus Baru OSIM, MPK , Ekskul MTSN 1 Bone Dilantik, Bendera Organisasi Jadi Simbol Kekuatan

Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Provinsi Sulawesi Selatan, Dr. H. M. Ishak Iskandar, M.K.S., M.M., M.H., mewakili Gubernur Sulawesi Selatan membuka kegiatan tersebut.

Dalam sambutannya menyampaikan pentingnya penguatan koordinasi dan sinergi lintas sektor dalam upaya pencegahan serta penanggulangan HIV/AIDS di Sulawesi Selatan.

Ia mengatakan, penanganan HIV/AIDS membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, dunia pendidikan, organisasi masyarakat, hingga lembaga pemerhati HIV/AIDS.

Ishak Iskandar juga menyampaikan bahwa kasus HIV/AIDS masih memerlukan perhatian serius dari seluruh pihak. Berdasarkan data yang dipaparkan, temuan kasus baru HIV/AIDS di Sulawesi Selatan menunjukkan tren penurunan. Pada 2023 tercatat 2.660 kasus, kemudian 2.486 kasus pada 2024 dan 1.939 kasus pada 2025. Sementara periode Januari hingga Juli 2026 tercatat sekitar 963 kasus.

Dari data tersebut, Kota Makassar menjadi wilayah dengan temuan kasus tertinggi sebanyak 445 kasus, disusul Kabupaten Gowa 74 kasus, Bulukumba 34 kasus, Jeneponto 27 kasus, Luwu Timur 23 kasus, dan Bantaeng 20 kasus.

Dari sisi kelompok umur, kasus paling banyak ditemukan pada kelompok usia 25–49 tahun dengan persentase sekitar 58 persen. Selanjutnya kelompok usia 15–24 tahun mencapai sekitar 35 persen, usia 50 tahun ke atas lebih dari 6 persen, sedangkan usia di bawah 15 tahun sekitar 1 persen.

Baca Juga:  Buka Workshop KRB 2026, Wabup Bone Tekankan Pentingnya Mitigasi dan Perencanaan Risiko Bencana

Dalam kegiatan tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, Dr. dr. Evi Mustikawati Arifin, Sp.KK, M.Kes., turut menyampaikan materi mengenai situasi perkembangan dan kebijakan program HIV/AIDS serta infeksi menular seksual (IMS) di Provinsi Sulawesi Selatan.

Sementara itu, Prof.Arlin Adam dari Tim Asistensi KPAP Sulsel menyampaikan materi bertajuk “Membangun Ekosistem Pencegahan HIV yang Etis, Terkoordinasi, dan Tanpa Stigma.” Materi tersebut menekankan pentingnya membangun pola pencegahan HIV yang melibatkan berbagai sektor dengan mengedepankan pendekatan tanpa stigma dan diskriminasi.

Tingginya temuan pada kelompok usia muda dan produktif menjadi perhatian dalam upaya pencegahan. Selain persoalan penularan, stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV (ODHIV) juga masih menjadi salah satu hambatan dalam penjangkauan serta pemeriksaan kesehatan.

Untuk itu, pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten/kota didorong mengoptimalkan pendekatan terpadu melalui sosialisasi yang dikolaborasikan dengan program donor darah, skrining kesehatan, serta penyuluhan bahaya narkotika.

Langkah tersebut akan melibatkan sejumlah instansi terkait, di antaranya Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, PMI, BNN, aparat penegak hukum, serta LSM yang bergerak di bidang HIV/AIDS.

Baca Juga:  Sebanyak 2023 CJH Siap Menuju Tanah Suci, Rincian Lengkap sbb :

Salah satu tindak lanjut yang disiapkan adalah pelaksanaan sosialisasi dan uji coba pengambilan sampel di sekolah-sekolah, dengan sasaran awal satu hingga dua sekolah di setiap kabupaten/kota.

Sementara itu, Wakil Bupati Bone Andi Akmal Pasluddin menegaskan bahwa penanganan HIV/AIDS tidak boleh hanya dilihat dari aspek medis.

Menurutnya, dukungan sosial dan mental juga menjadi bagian penting dalam penanganan HIV/AIDS, terutama untuk mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap ODHIV.

“Penanganan tidak hanya dari aspek medis, tetapi juga dukungan sosial dan mental untuk mengurangi diskriminasi terhadap penderita,” ujar Andi Akmal.

Ia menilai sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, lembaga pendidikan, organisasi kemasyarakatan, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam mewujudkan target Ending AIDS 2030.

Melalui Rakor tersebut, pemerintah kabupaten/kota di Sulawesi Selatan diharapkan dapat memperkuat program pencegahan, meningkatkan deteksi dini, memastikan akses pengobatan, sekaligus membangun lingkungan sosial yang lebih mendukung bagi ODHIV.

Komitmen bersama tersebut diharapkan memperkuat langkah Sulawesi Selatan dalam menekan penularan HIV/AIDS dan mencapai target Ending AIDS 2030.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *